Sejarah Nyata yang Menguatkan Hubungan Kakak dan Adik dalam Panas Pela Gandong

IMG 20231129 WA0011 2

Sorotperkara-News-Com– Saumlaki-Kegiatan Panas Pela Gandong yang digelar oleh Pemerintah Desa Welutu (Nuh Duan), Rumasalut (Narnera) dan Amdasa (Wilitabun) dilaksanakan untuk mempererat hubungan antara Kakak dan Adik dalam satu tali persaudaraan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Selasa, (28/11/2023).

Panas Pela Gandong yang dilaksanakan oleh ketiga desa itu bahwa selama ini hanya bertemu dan saling menyapa “Pela” namun, belum pernah dibuktikan dengan sejarah nyata yang dapat mempersatukan hubungan Kakak dan Adik kandung antara Ketiga desa tersebut.

Pelaksanaan kegiatan panas Pela Gandong antara Desa Welutu, Rumsalut dibawa oleh berbagai
marga- marga yang ikut dalam Panas Pela di Desa Amdasa yaitu ;

DESA RUMSALUT :

SOA ARUN ABOULU

Resimanuk Ra Resimanuk Roal, Refwalu, Basar, Enus Sabonu, Besitimur.

Sementara yang membawa Pribadi Marga Louloulia adalah Narnera Louloulia dan Alex Louloulia.

SOA OA RATANLIA UBUN

Faumasa, Refyaly, Kora, Rengrengulu, Ratuarat, Melayaman, Ahaulu, Ongirwalu.

SOA NUTUN
Fabeat, Iyanleba, Wuarlela, Matruti
Ditilebit, Manutmasa.

DESA WELUTU :
Lenunduan, Lasuatbebun
Masela, Sairdekut, Besitimur Matruti, Rumahenga,Iyarmasa, Kanat, Loka, Slarwamin, Iyanleba.

Kepada wartawan media ini, Kepala Desa Amdasa Bonefasius Batnyanik menjelaskan, kegiatan panas pela ini tidak disangka, karena kebetulan dua tahun kemarin ada peresmian gereja Katolik Petrus Paulus di Seira, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

“Kami dari Desa Amdasa mendapat undangan, setelah sampai di sana ternyata tamu – tamu yang ada hanya sekelompok saja tetapi hampir sekitar ratusan Kami datang untuk menghadiri peresmian Gereja Katolik Petrus Paulus di Seira,”katanya.

Ditambahkan, Kebetulan kami ada sedikit bawa bekal adat yang harus kami serahkan ke Desa Welutu dan Rumsalut lalu kemudian setelah selesai peresmian Gereja kami duduk bersama di balai desa Welutu dan dihadiri oleh Kepala Desa Amdasa, Welutu, Rumsalut dan tua-tua adat semua setelah di balai desa itu terjadi sebuah kesepakatan di desa Welutu. Atas kesepakatan ketiga Desa ini mengingat bahwa pada saat kedatangan tua-tua adat dari desa Amdasa pada Tahun 1972 hingga pada saat ini belum ada kunjungan balik dari desa Amdasa.

“Pada saat itu, ada kesepakatan bahwa apapun yang terjadi harus dilakukan panas pela dan ada kunjungan balik dari Desa Welutu dan Desa Rumsalut ke Desa Amdasa dan pelaksanaan panas pela ini sebenarnya sudah dilakukan pada tahun 2022 tetapi mengingat pada saat itu kondisi dan keadaan dan juga perekonomian di daerah sehingga kegiatan itu tidak bisa dilaksanakan pada tahun 2022, dan pada tahun 2023 ini pun kami sepakat antara 3 kepala desa ini apapun yang terjadi kegiatan panas pela ini harus terlaksana,” ungkap Kepala Desa Amdasa.

Dari kegiatan panas pela antara ketiga desa ini, Kepala Desa Amdasa diberi waktu pelaksanaan kegiatan tetapi setelah kami berembuk untuk memutuskan waktunya, masih ada sekali banyak hambatan rintangan yang terjadi, namun kami tetap semangat dan tetap melaksanakan kegiatan ini.

“Karena 52 tahun bukan usia yang muda tetapi sudah dinanti-nantikan oleh ketiga desa ini lebih khusus Desa Amdasa,”ucapnya.

Tujuan daripada kegiatan ini adalah, selama ini Seira lebih khusus Welutu Rumsalut dan Amdasa ini kita bertemu saling menyapa Pela tetapi riwayat kisa ini, bagaimana untuk kita dapat menyatakan bahwa kita pela dari mana, itu harus kita buktikan dengan sejarah yang nyata.

“Ini bukan saja dikatakan pela karena pela itu hanya sebatas saudara biasa tetapi ini ‘Pela Gandong’ tiga desa ini dari Satu Rahim,”Imbuhnya.

Kegiatan panas pela ini dilaksanakan di Desa Amdasa kurang lebih tiga hari kedepan dan semuanya menyambut baik, bahkan ada dukungan dari semua pihak sehingga pada hari terakhir nanti kita akan menutup dan mengembalikan saudara-saudara Gandong kita ke desa Rumsalut dan Welutu dalam keadaan baik adanya.

Sejujurnya memang agak sedikit berat karena dua desa tetapi setelah kami melakukan musyawarah antara semua kelembagaan yang ada di desa secara khusus dua kelembagaan adat mereka memutuskan bahwa apapun yang terjadi, itu sudah menjadi risiko.

“Jadi masyarakat Desa Amdasa sangat menyambut baik dan mendukung kegiatan ini, mereka sampaikan bahwa tidak ada waktu lagi. Waktunya sekarang kita harus melaksanakan kunjungan balik. Tidak boleh lewat dari bulan ini atau lewat dari tahun depan, sehingga antusias masyarakat sangat mendukung kegiatan panas pela Gandong ini untuk dilaksanakan,” pungkasnya.

Senada dengan Kepala Desa Amdasa, Kibener Iyarmasa selaku Kades Welutu mengatakan, Kegiatan Panas Pela ini tentu merupakan sebuah tanggungjawab karena ini merupakan kesepakatan bersama antara tiga desa bahwa apa yang telah dirintis oleh para leluhur kita pada waktu itu tetap akan kita tindaklanjuti sesuai dengan hasil kesepakatan antara ketiga desa ini.

“Dalam menjalani kesepakatan ini, memang banyak sekali tantangan yang selalu menghadang tetapi pada prinsipnya bahwa apa yang merupakan kesepakatan harus kita jalan, dan terbukti dihari ini kami sudah menyelenggarakan panas pela ini yaitu di desa Amdasa dalam rentang waktu kurang lebih tiga hari,”bebernya.

Kades Welutu menambahkan, bahwa panas pela Gandong ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa bagi Desa Welutu dan Rumsalut karena ketika pela Amdasa turun ke desa Welutu dan desa Rumsalut di tahun 1972, ini adalah sebua perintis yang harus kita jalani dan kami tetap sepakat untuk menjalani kegiatan ini, karena kegiatan Panas Pela Gandong ini akan menjadi sebuah motivasi bagi generasi-generasi penerus dan bukan hanya berakhir di hari ini tetapi kedepannya kegiatan panas pela ini tetap akan dilaksanakan.

“Pela ini bukan pela biasa, bukan sekedar pela tetapi ini adalah Pela Gandong pela yang bersumber dari ‘Satu Rahim’ maka ini perlu dijunjung tinggi sebagaimana yang telah dirintis oleh leluhur. Maka dari waktu ke waktu, panas pela ini tetap diselenggarakan,”Tutup nya.

(SB)

About Author

Optimized by Optimole